
Direktur Bisnis Konsumer BNI, Anggoro Eko Cahyo, mengatakan BNI terus mengupayakan peningkatan kualitas aset, salah satunya dengan cara membatasi penyaluran kredit pada sektor-sektor yang berpotensi menyebabkan kenaikan NPL.
"BNI mengembangkan kredit kepada sektor-sektor ekonomi yang berisiko rendah dan dapat dimitigasikan," kata Anggoro, dalam paparan kinerja semester I-2017 di Kantor Pusat BNI, Rabu (12/7/2017).
Anggoro mengatakan, biaya kredit perseroan juga mengalami penurunan yakni 1,8% dari sebelumnya mencapai 2,7%. Kondisi tersebut memberikan dampak positif, tercermin dari penurunan loan at risk dari 12% pada semester I–2016 menjadi 11,3% pada semester I-2017.
"Perbaikan juga terjadi pada cost to income ratio (CIR) yang menurun dari 43,2% pada semester I–2016 menjadi 42,4% pada semester I–2017," ujar Anggoro.
BNI mencatat pertumbuhan aset sebesar 17,2% (yoy), dari Rp 539,14 triliun pada semester I-2016 menjadi Rp 631,74 triliun pada semester I-2017.
Aset korporasi tersebut terhimpun dari perolehan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar Rp 463,86 triliun pada semester I-2017 atau meningkat 18,5% (yoy) dibandingkan semester I–2016 sebesar Rp 391,49 triliun.
Dari total DPK tersebut komposisinya masih didominasi komponen dana murah (current account & saving account/CASA) sebesar 60,9%, atau meningkat tipis dibandingkan semester I–2016 yang tercatat sebesar 60,4%. (wdl/wdl)
Comments
Post a Comment